Pekanbaru, 19 Januari 2026 – PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Riau dan Kepulauan Riau kembali memberangkatkan tim bantuan teknis kelistrikan pascabencana kloter VIII untuk memperkuat upaya pemulihan sistem kelistrikan di Provinsi Aceh. Pengiriman ini merupakan bentuk komitmen PLN dalam memastikan masyarakat terdampak bencana dapat segera kembali menikmati pasokan listrik yang aman dan andal.
Penugasan kloter VIII merupakan kelanjutan dari misi kemanusiaan yang telah dilakukan sejak tahap awal. Hingga saat ini, PLN UID Riau dan Kepulauan Riau telah menurunkan total 158 personel, terdiri dari pegawai PLN dan tenaga alih daya, untuk mendukung percepatan pemulihan kelistrikan di Aceh. Seluruh personel dibekali kompetensi teknis, peralatan kerja, serta standar keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang memadai.
Tim bantuan teknis akan difokuskan pada pemulihan jaringan distribusi dan gardu listrik, termasuk 75 desa yang masih dalam proses pemulihan kelistrikan di 8 kabupaten yang terisolir di Aceh. Upaya ini menjadi bagian penting dari strategi PLN dalam mengembalikan keandalan sistem kelistrikan sekaligus mendukung pemulihan aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat di wilayah terdampak.
General Manager PLN UID Riau dan Kepulauan Riau, Didik Wicaksono, menegaskan bahwa pengiriman tim bantuan teknis secara bertahap dan terkoordinasi ini menjadi langkah nyata PLN dalam menjaga stabilitas pasokan listrik nasional.
Melalui kolaborasi antara pegawai, tenaga alih daya, serta sinergi lintas unit PLN di wilayah Sumatera, PLN terus memperkuat upaya pemulihan kelistrikan agar masyarakat di wilayah terdampak dapat segera kembali beraktivitas dengan normal.
“Setiap personel yang kami kirim membawa semangat pengabdian untuk membantu sesama. Kami ingin memastikan bahwa listrik dapat kembali menyala di seluruh wilayah terdampak, termasuk di desa-desa yang masih terisolir. Ini bukan sekadar tugas, melainkan panggilan kemanusiaan. PLN akan terus memperkuat kolaborasi dan menghadirkan keandalan listrik demi mendukung kebangkitan masyarakat Aceh pascabencana,” tutup Didik Wicaksono.